0811 850 8828 admin@pulaucinta.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login
0811 850 8828 admin@pulaucinta.id

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Upaya Menteri Susi – Indonesia menjadi pengekspor penghasil ikan terbesar

Sejak pencurian ikan dilaut diberantas habis oleh bu Susi, ekspor ikan kita melonjak tinggi. Bahkan negara yang dulu belinya dari para pencuri ikan, akhirnya minta pasokan ke negeri ini..

Penghasil Tuna Terbesar Dunia, Indonesia Pasok Jepang hingga Amerika Serikat.

Indonesia menjadi negara penghasil tuna terbesar di dunia, dengan total sumbangan 16 persen dari produksi global dengan tangkapan tahunan diperkirakan sekitar 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 71 triliun (Kurs Rp 14.200 per dollar AS).

“Sekitar satu dari enam tuna yang ditangkap di seluruh dunia selama tiga tahun terakhir berasal dari Indonesia, yang merupakan 16 persen dari produksi tuna dunia,” kata Direktur Jendral Perikanan Tangkap M. Zulficar Mochtar dilansir dari SCMP, Jumat (22/3/2019).

Sebagai penghasil tuna terbesar, Indonesia menjadi pemasok utama pasar-pasar luar negeri seperti Jepang, Amerika, Uni Eropa, Korea, dan Hong Kong.

Bahkan Jepang, yang identik dengan sushi sebagai makanan khasnya, telah mengimpor hampir seperempat tuna Indonesia tahun lalu.

Hadi Wijaja, Direktur perusahaan pengolahan ikan di Jawa Timur Bahari Biru Nusantara mengatakan, mereka dapat memproses 35 ton ikan per hari, atau 5.000 ton per tahun.

Bahari Biru Nusantara dan 20 pemasok ikan asal Indonesia lainnya bahkan berhasil masuk Seafood Expo North America 2019, pameran perdagangan makanan laut terbesar di benua itu.

Dengan berhasilnya Indonesia masuk ke salah satu pameran terbesar, Indonesia mampu menunjukkan visibilitasnya sebagai produsen tuna berkualitas tinggi terbaik dunia, dan untuk memuaskan pelanggan potensialnya.

Upaya Menteri Susi

Tumbuhnya pasokan tuna di Indonesia tak luput dari kinerja Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Di bawah pengawasan Susi, ratusan kapal penangkap ikan asing yang menangkap ikan secara ilegal di perairan Indonesia telah ditenggelamkan.

Tindakan keras inilah yang telah meningkatkan pasokan ikan Indonesia dan telah meningkatkan reputasi Indonesia yang transparan dan tidak ada toleransi terhadap praktik ilegal.

Indonesia pun telah mengembangkan industri pengolahan yang modern dan efisien untuk mengatasi volume ikan yang ditangkap.

Selain masalah penangkapan ikan ilegal, Menteri Susi juga telah mengatur cara penangkapan ikan yang baik untuk para nelayan. Nelayan Indonesia dilarang memancing menggunakan pukat harimau sehingga menghilangkan resiko tangkapan yang tidak diinginkan.

Kapal penangkap ikan Indonesia hanya menggunakan jaring besar yang lebih ramah lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menjadi negara kedua setelah Jepang yang memancing secara tradisional.

“Para ahli memperkirakan bahwa hampir 20 persen tuna Indonesia dapat ditangkap dengan metode yang lebih ramah lingkungan ini,” tulis SCMP.

Karena penangkapan ramah lingkungan ini, bulan November lalu salah satu pemasok ikan Indonesia menerima sertifikasi Marine Stewardship Council untuk perikanan berkelanjutan, salah satu sertifikasi paling ketat terkait praktik penangkapan ikan liar.

“Indonesia melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam mengendalikan penangkapan ikan ilegal di perairannya,” kata Reniel Cabral, seorang ilmuwan kelautan dari Filipina dilansir dari SCMP, Jumat (22/3/2019).

Menurut dia, Indonesia selanjutnya perlu menerapkan pengawasan serupa terhadap metode penangkapan ikan para nelayan domestiknya.

“Untuk terus mendapatkan manfaat dari kebijakan ini, mereka perlu memastikan bahwa upaya penangkapan ikan domestik juga dikelola dengan baik.” ujar Reniel.

Jadi tidak heran, masa pemerintahan presiden Jokowi, kelautan kita sudah menjadi utama no 1 di Asia Tenggara dan tidak heran beberapa negara luar ingin belajar pada Indonesia tentang pengelolaan laut yang baik.

Jayalah para nelayan di negara maritim..

https://www.google.com/amp/medan.tribunnews.com/amp/2019/03/25/susi-pudjiastuti-bawa-indonesia-jadi-penghasil-tuna-terbesar-pasok-jepang-hingga-amerika-serikat

https://money.kompas.com/read/2019/03/22/224600226/penghasil-tuna-terbesar-dunia-indonesia-pasok-jepang-hingga-amerika-serikat?utm_campaign=Dlvrit&utm_source=Facebook&utm_medium=Social

https://ekonomi.kompas.com/read/2019/01/29/171703526/ekspor-perikanan-indonesia-ke-jepang-didominasi-ikan-tuna-dan-udang

@Pulaucinta.id – Laut Harapan Masa Depan

Leave a Reply